Jejak Papap di Perantauan
Hidup di perantauan itu sungguh berat. Seperti yang sekarang sedang aku rasakan. Sebagai mahasiswa jurusan Keguruan tingkat akhir yang harus prihatin dengan uang kiriman yang pas-pasan dari uang pensiunan ibuku. Kota besar seperti Bandung ini sering terasa kurang ramah. Hari ini, sejak sepanjang malam aku menahan rasa perih di perutku. Persediaan Indomie yang tinggal setengah bungkus sudah habis. Di kamar aku hanya punya garam, gula dan air mentah. Semuanya berlarian menjauhiku, seperti bunga rumput tertiup angin. Duh, aku lapar sekali. Dalam hatiku aku masih yakin, pertolongan akan datang. Bukankah selama kita masih hidup, Allah sudah membagi bagian rejeki kita diantara trilyunan makhluk-makhluknya di atas bumi? Tapi pertolongan dari mana? Di kota ini aku tidak kenal siapa-siapa yang bisa memberiku sepiring nasi lengkap dengan lauk pauknya secara gratis. Di...