Jejak Papap di Perantauan
Hidup di perantauan itu
sungguh berat. Seperti yang sekarang
sedang aku rasakan. Sebagai mahasiswa
jurusan Keguruan tingkat akhir yang harus prihatin dengan uang kiriman yang pas-pasan
dari uang pensiunan ibuku. Kota besar
seperti Bandung ini sering terasa kurang ramah.
Hari ini, sejak sepanjang malam aku
menahan rasa perih di perutku.
Persediaan Indomie yang tinggal setengah bungkus sudah habis. Di kamar aku hanya punya garam, gula dan air
mentah. Semuanya berlarian menjauhiku,
seperti bunga rumput tertiup angin. Duh,
aku lapar sekali.
Dalam hatiku aku masih yakin, pertolongan
akan datang. Bukankah selama kita masih
hidup, Allah sudah membagi bagian rejeki kita diantara trilyunan makhluk-makhluknya
di atas bumi? Tapi pertolongan dari
mana? Di kota ini aku tidak kenal siapa-siapa yang bisa memberiku sepiring nasi
lengkap dengan lauk pauknya secara gratis.
Di kampung kalau lapar aku tinggal belok atau berhenti di perempatan. Setiap beberapa puluh meter, ada rumah paman,
bibi atau sepupuku. Tinggal masuk saja,
ambil piring, ciduk nasi yang banyak sama lauknya, terus makan. Di sini mana bisa begitu? Aduh, perutku
tambah nyaring saja bunyinya.
Naluriku sebagai seorang manusia yang
masih ingin hidup akhirnya membawa kakiku melangkah. Aku menuju warung nasi yang berada di
belakang kampusku dengan selembar uang dua ribuan di kantongku. Sesaat aku masuk, mengambil piring dan nasi,
menyiramnya dengan lima macam kuah dan mencomot sepotong tempe kecil. Aku berjalan ke kasir, kutunjukkan piring
nasiku dan kuacungkan uang dua ribuanku ke meja kemudian aku duduk dan mulai
makan dengan kecepatan penuh sebelum Pak Kumis yang punya warung
menghampiriku. Pasti aku akan menemui kejadian,
bagaimana mungkin setumpuk nasi yang penuh kuah dan sepotong tempe berharga dua
ribu rupiah?
Benar saja. Saat aku menjejalkan makanan tanpa dikunyah
ke mulutku, ada suara langkah berat mendekat.
Tak lama kemudian sebuah mangkuk berisi penuh sayur semur daging
diletakkan dengan bantingan yang mantap di hadapanku. Braak!
“Hey, kamu. Nih, makan.
Bocah ngendi kowe? (anak mana kamu?)”, suara kencang, serak
dengan bentakan tajam meluncur dari bapak berbadan besar berkumis baplang memakai
baju loreng TNI.
“Inyong mbiyen kaya
sering ndeleng rika, mahasiswa sekang ngendi? (aku sepertinya dulu sering
lihat kamu, mahasiswa dari mana?) “
Suaranya keras, tapi
tatapan matanya lembut.
“Cilacap, pak” jawabku.
“Cilacape endi?”
(Cilacapnya mana?) lanjut bapak itu dengan suara lebih lunak.
“ Sidanegara, pak”. Aku
menjawab sambil ciut menahan malu.
“Aku sepertinya dulu
sering lihat kamu. Kamu masih kecil,
tapi aku hapal sama bentuk mata dan kacamatamu yang tebal itu. Nama bapak kamu siapa?” tanyanya lagi.
Aku menyebutkan nama
bapakku yang sudah lama meninggalkan aku di dunia yang penuh kekerasan dan
kelaparan ini. Sejurus kemudian, si
bapak warung itu merangkul pundakku dengan hangat.
“Kamu anak Pak Edy Sapto,
guru karateku dulu. Berarti kamu ya, anakku juga.”
“Aku dulu murid bapakmu.
Belajar karate dari SD kelas 1 sampai SMA dan juara PORDA. Bapakmu galak, tapi baik. Sebelum latihan, beliau selalu bertanya, apa
ada yang belum makan? Kebetulan aku
selalu berangkat tergesa-gesa dan belum makan.
Bapakmu sering menyuruhku makan dulu, dibayari di warung belakang kilang
minyak Pertamina tempat latihan dulu.”
“Hey, dengar, aku
sekarang dinas di Kodim. Warung makan
ini punyaku. Mulai hari ini, kapan saja
kamu mau, masuk dan makan di sini.
Jangan sungkan. Anggap aku
bapakmu sendiri ya.”
Sejak hari itu, beliau
menjadi pelindungku di Bandung yang luas dan sibuk ini.
Dalam semilir angin yang
berhembus ke wajahku, aku seperti merasakan tangan bapakku yang kekar
menyuapiku perlahan-lahan dari tempat peristirahatannya di alam kedamaian. “Anakmu kenyang sekarang, Pap. Terimakasih”,
tangisku dalam hati.
In memory of my
father. I miss you so much, Pap.
Komentar
Posting Komentar