Dunia Dalam Berita Dalam Kenangan Mitos Kehamilan Ibuku


Melihat gambar ini di internet, saya jadi senyum-senyum sendiri.  Tahun 1980an sampai saya SD Kelas 6 di tahun 1990 rasanya hampir tiada seharipun terlewatkan menonton acara ini.  Dunia Dalam Berita setiap pukul 21.00 WIB selama tigapuluh menit, tanpa iklan.  Saya ingat waktu itu, bapak saya sampai tertidur pulas kalau sudah berada di depan televisi tepat acara ini dimulai. Penyebabnya apalagi kalau bukan empuk dan sedapnya tone suara para anchor. Para penyiar (anchor) andalan TVRI saat itu, Yasir Den Has, Yan Partawijaya, Toeti Adhitama, Anita Rahman dan Zsa Zsa Yusharyahya begitu melekat dalam ingatan masa kecil saya sekeluarga.

      Sebagai tayangan berita utama di televisi nasional, Dunia Dalam Berita memang saya nilai berhasil kala itu, setidaknya bagi peningkatan pembelajaran Ilmu Pengetahuan Umum.  Gegara rajin menonton Dunia Dalam Berita nilai pelajaran IPS, PMP dan PSPB (anak jaman sekarang tidak akan tahu PMP dan PSPB) saya selalu berkilau di atas skor 8.  Acara ini memang informatif.  Ketiadaan jeda iklan di dalamnya membangun efek psikologis yang kuat, sehingga berita yang disajikan lebih mudah menancap dibenak pemirsa. 

      Sebenarnya bukan acara Dunia Dalam Berita ini yang mau saya tulis.  Saat saya melihat wajah anchornya yaitu Yasir Den Has, saya jadi ingat adik perempuan saya.  Tahun 1989 itu ibu saya sedang hamil putri terakhirnya, ya adik saya itu.  Di kalangan masyarakat Jawa, ada mitos, atau semacam pseudosains bahwa seorang anak akan terlahir dengan wajah menyerupai seseorang/sesuatu yang dibenci ibunya.  Entah bagaimana pembuktiannya, yang jelas hal itu kebanyakan benar-benar terjadi.  Lantas apa hubungan Dunia Dalam Berita dengan Yasir Den Has? Tentu saja karena Yasir Den Has adalah salah satu penyiar andalan Dunia Dalam Berita.  Lalu apa hubungannya dengan ibu dan adik saya?

Saat ibu saya hamil adik terakhir saya, beliau entah kenapa benci sekali kalau menyaksikan Yasir Den Has muncul di televisi.  Bukan benci yang bagaimana, beliau (ibu saya ) itu benci melihat bentuk alis Yasir Den Has yang menurun.  Setiap kali sang penyiar muncul, kami sekeluarga pasti mendengar “nyanyian” itu.  “Tuh lihat alis Yasir Den Has, turun banget gitu, kok ada ya alis yang bentuknya kayak gitu “, sampai adik saya lahir.  Benar saja, bentuk alis adik saya tidak mirip bapak atau ibu, tapi menurun seperti bentuk alis Yasir Den Has. Sampai sekarang, ibu sering dicandai kalau berkumpul dengan putri bungsunya itu, “Bu, itu anaknya Yasir Den Has ya?” .  Ada mungkin di antara anda yang mempunyai cerita serupa ini?





Komentar

  1. Betul Bun..saya juga pernah dapet cerita seperti itu...

    BalasHapus
  2. Ini ada lagunya bu,

    Dunia dalam berita, berita dalam dunia. Ada yg menyenangkan. Ada yg menyedihkan. sungguh asyik dunia dalam berita.
    (Nginget dulu jd vokalis band kepret. Hihihi)

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Biarkan Tulisan Itu Menemui Takdirnya

Lautan Sebagai Sumber Pangan (Potensi dan Pengelolaan Makanan Berbasis Ikan Laut di Kabupaten Subang)

Generasi Rebahan Tempat Kita Melanjutkan Asa