Generasi Rebahan Tempat Kita Melanjutkan Asa
Apakah hari ini anda
sedang merasa kesal pada anak anda?
Mungkin tadi siang atau
sore, anda uring-uringan karena tangan anak anda “lengket” dengan HPnya sampai
lupa waktu sholat dan berinteraksi dengan orang tuanya? Percayalah anda tidak sendirian. Nama baru bagi generasi anak-anak kita yang
lahir tahun 2000an adalah “generasi rebahan”.
Anak-anak
kekinian itu santai sekali. Bermain games di handphone, julid
di Twitter, mengintip instastory mantan, balas chat gebetan,
hingga nonton video di YouTube melebihi TV. Dulu tahun 90-an saya kira TV sudah
menjadi “common enemies” orang tua dalam mendidik anak-anaknya, ternyata
kehadiran HP lebih membuat kita terperangah.
Seburuk-buruknya kecanduan nonton TV, layarnya masih lebar dan kita
sekeluarga masih bisa melakukan kontrol.
Tapi HP? Layarnya begitu kecil, kita sebagai orang tua hampir tidak
seluruhnya tahu apa yang diakses anak-anak kita.
Badan Pusat Statistik (BPS)
memproyeksikan Generasi Milenial akan menjadi generasi mayoritas dalam struktur
demografi di Indonesia. Jumlah penduduk Indonesia selama beberapa tahun
mendatang terus meningkat, yaitu dari 265 juta pada tahun 2018 menjadi 282 juta
pada tahun 2024 dan mencapai 317 juta pada tahun 2045. Lantas siapa Generasi Milenial itu? Jika
merujuk pada Generation Theory yang dicetuskan oleh Karl Mannheim pada tahun
1923, Generasi Milenial adalah generasi yang lahir pada rasio tahun 1980 sampai
dengan 2000. Generasi Milenial juga disebut sebagai generasi Y. Istilah ini
mulai dikenal dan dipakai pada editorial koran besar Amerika Serikat pada
Agustus 1993.
Generasi Milenial di-stereotipkan dengan
kaum rebahan. Sayangnya, stereotip yang dibangun adalah stereotip negatif
seperti malas, tidak produktif, melewatkan kesempatan, tidak mempunyai target,
serba instan, bergantung pada teknologi, mengerjakan sesuatu tanpa keringat,
dan tidak menghasilkan apa-apa.
Sejujurnya kita juga sering merasa cemas terhadap hal ini. Saya sering miris menyaksikan anak sendiri
dan siswa-siswa kita di sekolah sangat mirip dengan stereotip itu. Mau jadi apa mereka kelak? Apa bisa mereka survive
sepeninggal kita?
Saya
ingat petikan puisi Kahlil Gibran, penyair Lebanon yang termasyhur itu. “Anakmu bukan milikmu” ada beberapa kalimat yang menjadi keyakinan
saya untuk tidak menaruh kecemasan berlebihan terhadap Generasi Rebahan ini.
“…jangan membuat
mereka menyerupaimu, sebab kehidupan tidak pernah berjalan mundur, ataupun
tenggelam ke masa lampau.”
Dan di bagian ini sisi
kita sebagai orang tua mereka :
“Engkaulah busur
asal anakmu,anak panah hidup, melesat pergi.
Sang Pemanah membidik
sasaran keabadian, Dia merentangkanmu
dengan kuasaNya, hingga anak panah itu melesat jauh dan cepat.
Bersukacitalah
dalam rentangan tangan Sang Pemanah,sebab Dia mengasihi anak-anak panah yang
melesat laksana kilat, sebagaimana dikasihiNya pula busur yang mantap.”
Saya menafsirkan diri
sebagai busur yang mantap buat anak Generasi Rebahan ini. Nyatanya kita memang tidak sungguh-sungguh
tahu, seperti apa suasana masa depan tempat mereka kelak hidup sebagai orang
dewasa. Namun yang jelas, keadaannya
tidak akan sama dengan kita sekarang. Seperti orang tua kita yang dulu merasa
terancam dengan televisi. Kita menghadapi bukan lagi televisi, melainkan ultra
televisi, yaitu smartphones. Terbayangkah kita seperti apa ultra smartphones
kelak?
Yoris Sebastian dalam bukunya Generasi
Langgas Millenials Indonesia, menuliskan ada beberapa keunggulan dari Generasi
Milenial, yaitu ingin serba cepat, mudah berpindah pekerjaan dalam waktu
singkat, kreatif, dinamis, melek teknologi, dekat dengan media sosial, dan
sebagainya. Bahkan menurut Youth Lab
(sebuah lembaga studi mengenai anak Muda Indonesia) yang melakukan penelitian
di lima kota besar Indonesia (Jakarta, Bandung, Makassar, Medan, dan Malang) menghasilkan
penelitian yang menunjukkan bahwa Milenial memiliki karakter yang jauh lebih
kreatif dan informatif. Generasi tersebut juga memiliki cara pandang yang
berbeda dengan generasi sebelumnya.
Meskipun sambil rebahan faktanya Milenial
memiliki kemampuan multi-tasking, seperti belajar, belanja, bersosialisasi di
satu waktu yang sama. Selain itu, sambil rebahan Milenial juga mampu
menjalankan bisnis secara online. Semangat
entrepreneurship di kalangan Milenial juga cukup tinggi. Hasil survei menunjukkan bahwa 69,1 persen
Milenial berminat untuk membuka usaha, artinya 7 dari 10 Milenial memiliki jiwa
entrepreneurship.
Sedangkan penelitian Manpower Group
menunjukkan bahwa Milenial bekerja lebih keras dari generasi sebelumnya.
Sebanyak 73 persen Milenial bekerja 40 jam seminggu dan seperempatnya bekerja
lebih dari 50 jam seminggu. Selain itu, sebanyak 26 persen di antaranya
mempunyai lebih dari satu pekerjaan. Berdasarkan
data-data tersebut, maka stereotip negatif tentang Milenial sebagai kaum
rebahan tidak sepenuhnya benar. Jadi, rebahan sebentar tidak menjadi masalah
sembari melakukan aktivitas lain dan bermanfaat. Lagi pula beda zaman beda
orangnya. Ya seperti puisi Kahlil Gibran itu tadi, “…jiwa mereka adalah
penghuni rumah masa depan, yang tiada dapat kau kunjungi, sekalipun dalam
mimpimu.”
Bagaimana? Apakah anda sependapat?

Se7 dan menginspirasi ..... www.sarastiana.com
BalasHapusThank you udah mampir ya kak. Aku jalan-jalan ke blog kakak nanti.
Hapus