Higher Order Thinking Skill, Bukan High Order Thinking Skill

      Sore ini ceritanya suasana hati sedang baik.  Ada kiriman yang sudah lama dinanti.  Sebuah e-certificate hasil dari perjuangan berbanting ria sejak tanggal 15 Mei 2020 sampai 2 Juni 2020 dari sebuah pelatihan yang diselenggarakan oleh sebuah lembaga konsultasi pendidikan, HAFECS (Highly Functioning Education Consulting Services).  Prosesnya panjang dan cukup melelahkan, karena mereka memiliki seperangkat peraturan sendiri, meliputi tata cara mengikuti webinar series, presensi, feed back dan lima kelompok tugas yang harus disetorkan sebelum deadline.

      Kalau dirasa-rasa, ikut program 64 jam pelajaran di sini malah lebih melelahkan dibandingkan saat mengikuti PKP (Program Peningkatan Kompetensi Guru) yang diselenggarakan secara nasional bertahap selama bulan November 2019 sampai bulan Januari 2020 yang lalu.  Di PKP, kita bekerja dengan banyak rekan, pembimbingnya juga teman sendiri.  Hasil kerja melengkapi dan menyusun LK bisa dibarter dengan yang lain.  Di HAFECS tidak bisa.  Semuanya sendiri, digital dan masuk by system. Resiko jika kita tidak mengirimkan tugas sesuai deadline adalah gugur otomatis.  Sama saja dengan panas setahun dihapus oleh hujan sehari.  Belum lagi tugas membuat video pembelajaran berdurasi antar 10-15 menit tentang topik pembelajaran, harus diupload ke Youtube dan linknya baru bisa ditautkan ke Learning Media Center milik mereka. Betul-betul membuat saya mati gaya pada awalnya. Bagaimana kalau kita mengumpulkan tugas tepat waktu tetapi tidak lengkap?  Jika ini terjadi, mereka hanya akan menuliskan jumlah jam pelajaran yang bisa diverifikasi ke dalam sertifikat yang kita terima.  Bayar 64, masa mau terima kurang dari itu?  Tentu saja saya pantang membiarkan hal itu terjadi pada diri saya.

      Saya mencermati sertifikat PKP saya di bagian Struktur Pembelajaran, sudah tertulis di sana HOTS adalah Higher Order Thinking Skill.  Namun saya ingat, tahun 2013, saat saya mengikuti Pelatihan K-13, kepanjangannya masih High Order Thinking Skill.  Apa yang saya tangkap saat itu adalah bagaimana kita melatih siswa untuk mencapai ranah kognisi yang lebih tinggi selain mengingat (C1),  memahami (C2) dan mengaplikasikan/menerapkan prosedur (C3).  Sepertinya saya tidak sendirian.  Dalam pelatihan itu, sampai ada peserta yang bertanya “apakah soal berkarakter HOTS itu harus yang sulit sekali?’

      Pada PKP 2019,  saya banyak mengalami distraksi.  Terus terang saya sudah terlanjur memvonis diri saya sebagai LA (Low Achiever) atau pembelajar lambat untuk topik pedagogi dan kurikulum.  Penyebabnya adalah latar belakang pendidikan saya yang bukan dari Ilmu Kependidikan.  Saya natural science.  Kurikulum dan pedagogi tidak terlalu familiar buat saya.  Ditambah lagi dengan situasi pembelajaran klasikal yang berkelompok (tapi individualis) karena hanya beberapa orang  yang aktif.  Saya makin tertinggal di pojokan.  Meskipun LA tapi saya high motivated orangnya.  Jadi dalam rangka mengejar skor berkategori minimal “cukup” atau “baik” saya rela bergadang tiap malam sepanjang pekan pelatihan itu.  Hasilnya skor menengah, 84 saja dan masih kalah dengan teman-teman saya yang jebolan IKIP, UPI atau PGSD.

      Sampai berakhirnya PKP 2019 itu, mindset saya tentang HOTS dan ranah kognitif masih belum banyak bergeser.  Susah, berat, tidak paham apa esensinya, seperti tabir misteri yang menyelimuti malam gelap berkabut tebal.  Hingga hari itu datang, saya mengenal dan mengikuti pelatihan di HAFECS.  Di tempat ini, konsep HOTS langsung diajarkan dari sumber pertamanya yaitu Taksonomi Anderson-Krathwohl (AKT = Anderson Krathwohl Taxonomy).  Beliau berdua ini adalah murid Benjamin Samuel Bloom yang penemuannya tentang ranah kognisi diadaptasi dalam K-13. 

      Sepanjang sesi penyajian materi, PPT dipenuhi istilah berbahasa Inggris.  Banyak peserta yang protes menuntut padanan kata dalam Bahasa Indonesia, namun panitia secara halus menolaknya.  Tampaknya kita memang dipaksa untuk mulai berubah dan ditantang untuk masuk ke suasana baru.  Namun entah kenapa, pada kesempatan itu, saya mendadak bertransformasi menjadi seorang HA (High Achiever).  Saya merasa seperti spons yang begitu mudah menyerap konten, konteks dan analogi-analogi yang mereka sajikan. 

      Saya jumpai miskonsepsi yang parah tentang pemahaman saya terhadap HOTS.  Berpikir dan memecahkan masalah ala HOTS ternyata bukan untuk menjadikan siswa High Thinking, namun Higher Thinking. Untuk itu, diperlukan tangga-tangga pijakan/rute.  Pemrasaran memaksa kami untuk hafal dan familiar dengan struktur ini :



Ruwet pada awalnya, namun seterusnya terasa seperti memegang magical tool set which can fix almost all the problems. Mudah sekali Menyusun rencana pembelajaran dan merancang aktivitas pembelajaran dengan alat ini.  Tidak perlu melihat daftar ratusan kata kerja yang masuk dalam kategori ranah kognitif seperti saat saya belajar K13 kemarin.

      Satu hal lagi, di sesi-sesi pembelajaran ini saya mengenal bahwa remidial tidak akan perlu diterapkan selama kita melakukan check and assesement, mengenali potensi kesulitan belajar siswa, memberikan analogi dan logika yang tepat sekaligus mengenali karakter belajar siswa.  Saya mengenal istilah baru yang akan terus saya praktekkan yaitu melakukan linear extrapolation (menurunkan rute pembelajaran atau membuat rute pemahaman baru sesuai AKT) bagi siswa yang termasuk kategori MA atau LA.  Namun sama halnya dengan saya, siswa memiliki karakteristik belajar tersendiri.  LA seperti saya bisa menjelma sebagai HA jika mendapatkan perlakuan yang tepat sesuai karakter belajarnya.  Oleh sebab itulah, seri pelatihan ini dinamakan TMF (Teaching Mastery Frame).  Mereka punya tujuh seri, saya baru ikut dua.  Sepertinya jika saya berkesempatan mengikuti semuanya, saya bisa bikin lembaga pelatihan sendiri. Asyik. 


Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Biarkan Tulisan Itu Menemui Takdirnya

Lautan Sebagai Sumber Pangan (Potensi dan Pengelolaan Makanan Berbasis Ikan Laut di Kabupaten Subang)

Generasi Rebahan Tempat Kita Melanjutkan Asa