Ibu Saya Adalah Pejuang Ekologi yang Sesungguhnya

Sore ini, saya baru saja mengikuti webinar Literasi Kelautan yang cukup lama.  Di sesi terakhir, pemrasaran menyajikan materi Pencemaran Laut.  Tiba-tiba saja perasaan saya langsung remuk, seperti tahu Lembang yang kebanting dari bungkusnya waktu saya goreng tadi pagi.  Para peserta disajikan gambar-gambar biota laut yang tersiksa karena perbuatan kita di darat.






“Aduh biyung”, spontan saya sambat menyebut nama ibu saya.  Kasihan sekali makhluk-makhluk ini. Mereka mengira sampah-sampah plastik yang butuh ratusan tahun untuk terdegradasi itu sebagai makanannya.  Sekilas jika ada di perairan, bentuk plastik menyerupai plankton atau ubur-ubur, sehingga makhluk-makhluk air memakannya.  Manusia sesungguhnya adalah ciptaan paling berbahaya di muka bumi.  Almarhum Steve Irwin, pembawa acara terkenal dari Australia yang fenomenal dalam program “The Crocodille Hunter” bahkan pernah mengatakan “It’s more easiest handling crocodilles than human. The crocodilles are not pretending that they’re dangerous, but humans do that.”

      Sejenak saya teringat materi pelajaran IPA di kelas VII yang saya ampu.  Saya mengajarkan pada murid-murid saya tentang konsep 4 R dalam konservasi lingkungan yaitu reduce, reuse, recycling dan replace. Dipikir-pikir, lha wong gurunya saja belum bisa mengamalkannya.  Kalau kehausan di sekolah saya masih suka beli minuman yang botolnya plastik terus  dibuang begitu saja. Belum lagi pakai kantong belanja, wadah styrofoam yang beracun itu tiap beli pisang keju favorit atau memakai tissue dengan semena-mena untuk memperbaiki make up  yang ditebal-tebalkan supaya flek umur empatpuluh tidak merusak penampilan yang sudah seadanya ini.

      Terus apa hubungan ini semua dengan ibu saya?  Sepanjang webinar saya jadi ingat kebiasaan ibu.  Saya pikir-pikir lagi, ibu saya ternyata penganut green living lifestyle juga.  Ibu punya kebiasaan menghemat sabun mandi dengan cara dikepal-kepal jadi satu, sehingga sabunnya berwarna-warni dan tidak kecil-kecil (tidak habis-habis).  Kami dipaksa untuk pakai sabun yang wanginya sudah tidak jelas itu.  “Irit!” kata ibu sambil melotot kalau kami protes.

      Ibu juga punya kebiasaan mengisi air ke dalam botol kaca bekas syrup ABC kemudian ditaruh berjejer di pintu kulkas.  Inilah prinsip reuse yang nyata.  Belum lagi kebiasaan ibu mencuci kaleng biscuit Khong Guan untuk dijadikan berbagai wadah.  Waktu saya ceritakan reputasi kaleng Khong Guan yang begitu buruk karena suka berkonspirasi, ibu saya menjawab “ itu karena harapan orang sering ketinggian.  Berharap makan biscuit enak malah nemu rengginang , makanya jangan suka meremehkan rengginang. Bukan salah kaleng Khong Guannya”.  Atau Ketika saya bilang kalau reputasi kaleng Khong Guan begitu buruk sampai disematkan pada bodi mobil-mobil LCGC yang gampang penyok sebagai bodi Khong Guan, ibu saya langsung menyerobot “ kalau nggak kamu pakai buat ugal-ugalan terus nabrak ya nggak bakal penyok, bukan salah kaleng Khong Guannya”.



Ibu juga tidak pernah membuang kantong plastik bekas, terutama yang ukuran besar.  Kalau kotor, dicuci bersih dijemur kemudian dilipat rapi.  Ibu punya trik khusus melipat ratusan kantong kresek di rumah sehingga tampak rapi dan irit wadah.  Saya ingat dulu kalau belanja ke pasar atau warung, ibu selalu bawa tas model ini.

Oh iya, satu lagi  green living style ala my simbok,  kalau habis buka sabun mandi, bungkusnya tidak pernah dibuang tapi diselipkan ke lemari baju supaya irit kapur barus, katanya. Bahkan di webinar tentang environtmental degradation saya malah jadi ingat sama simbok saya. I love you, mam.







Komentar

  1. bagus sekali tulisannya..inspiratif. mhn mampir ke tempatku ya bu..
    http://iniblogqu20.blogspot.com/2020/06/sejenak-bersama-mrbams.html.

    BalasHapus
  2. Wah mantap bu dah mulai menulis selain resume...
    Jangan lupa ditengok http://maseko1275.blogspot.com/2020/06/mr-bams-berbagi-kebaikan-melalui-blog.html

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Biarkan Tulisan Itu Menemui Takdirnya

Lautan Sebagai Sumber Pangan (Potensi dan Pengelolaan Makanan Berbasis Ikan Laut di Kabupaten Subang)

Generasi Rebahan Tempat Kita Melanjutkan Asa