Keberuntungan yang Memalukan

      Sudah hampir tiga bulan sejak aku dan teman-teman sejawatku menjalankan Work From Home akibat epidemi covid 19.  Sungguh membosankan ! Murid-muridku juga (katanya) belajar dari rumah.  Namun kurasa mereka tidak benar-benar belajar karena gurunya pun tidak benar-benar mengajar dari rumah.  Sekolah di desa seperti kami mempunyai keterbatasan akses internet.  Kualitas sinyal yang naik turun, ditambah kemampuan ekonomi sebagian besar orangtua murid yang sulit menyediakan  kuota untuk keperluan belajar daring putra-putrinya. 
      Sebagai tipikal orang yang mudah bosan, aku tentu saja terus mencari kegiatan yang mampu membuatku merasa normal.   Aku tidak mau gegara epidemi ini aku jadi depresi dan ujung-ujungnya malah tertular, ah jangan sampai!  Jadi aku mulai mengambil beberapa kelas daring.  Kelas pertama aku ambil dari media sosial favoritku, Twitter.  Aku mengambil dua kelas sekaligus dalam bahasa Inggris, yaitu Basic English dan Basic Writing and Writing Academic Class.  Untuk cerita tentang pengalamanku di kedua kelas ini, aku akan tuliskan dalam postingan terpisah.  Aku sedang  mengumpulkan keberanian untuk menjawab tantangan di blog Gurusiana untuk menulis tanpa terputus selama 30 hari.  
      Masih dalam masa WFH (Work From Home) aku belum puas dengan kursus daring tersebut, aku mengambil lagi 10 sesi kelas daring Basic Grammar Online. Kelas yang satu ini kurang menantang karena tidak ada evaluasi, hanya pemberian materi dan latihan massal.  Presensipun tidak ada.  Bosan dengan bahasa Inggris, aku mengambil kelas daring pembelajaran yang diselenggarakan oleh sebuah lembaga bernama HAFECS (Highly Functioning Education Consulting Services) selama 64 jam pelajaran.  Mantap sekali presensi, materi, penugasan dan deadlinenya.  Cukup membuat aku puyeng seperti hampir pingsan, tapi begitu menyeruput kopi segalanya benderang kembali.  Pelatihan yang horor tapi asyik itu masih aku ikuti sampai dengan tulisan ini aku buat.
      Satu hari, aku lupa hari apa, temanku di grup memberikan tawaran bergabung dengan pembelajaran daring Sagusabu (Satu Guru Satu Buku).  Namanya lucu dan aneh, tetapi ternyata misi dan kontennya tidak main-main.  Di sinilah untuk pertama kali aku mengenal portal Gurusiana, dan aku dipaksa keras membuat blog sendiri.  Ada hal lain yang lebih tidak main-main.  Di komunitas belajar daring ini, aku langsung mendapatkan keberuntungan.  Tapi bukan keberuntungan yang indah melainkan keberuntungan yang bikin malu.  Tugas pertama yang kusetorkan yaitu esai tentang opini masuk sekolah kembali di tengah wabah covid 19 malah jadi sampel tentang kesalahan-kesalahan dalam menulis.  Tak mengapa memang.  Kupikir ini gara-gara waktu mengikuti kelas menulis dalam Bahasa Inggris, aku memilih buku Negative Learning karya Masruri, jadilah aku menjadi model negative learning betulan.  Kejadian mengkritisi yang semula kubayangkan akan menyakitkan ternyata malah berlangsung penuh gelak tawa.  Kesalahan fatal dalam tulisanku dan teman-temanku peserta negative learning yang lain di 'edel-edel' dengan 'suwek kabeh' tapi tidak sakit oleh Pemred Media Guru, Pak Eko Prasetyo.

Lihat itu, openingnya saja sudah bikin malu.  Belum lagi keseluruhan bagiannya.  Namun hal yang membuatku bahagia adalah tidak semua tulisan mendapat kesempatan reviu dari pembimbing.  Hanya yang bagus-bagus, atau yang paling tidak bagus-bagus.  Ya itu tadi, negative learning atau positive learning.  
      Yang jelas sejak hari itu hidupku berubah.  Aku jadi rajin menulis.  Tadinya aku langsung tidur atau skrol timeline media sosial sambil merasakan informasi berhamburan di pikiranku.  Sekarang aku mulai bisa menghubung-hubungkan informasi itu menjadi knowledge, dan sedikit demi sedikit mengarah ke insight (alumni Hafecs mode on)Tentu aku harus memberikan reward pada diriku sendiri atas pencapaian tersebut.  Aku mengambil satu kursus daring lagi yaitu Belajar Menulis Gelombang 12.  Alhasil lahirlah blog Kica-kica Ayu ini.  Sekarang aku punya dua rumah yang harus diurus, yaitu Gurusiana dan Kica-kica Ayu.  Semoga  kelak aku dapat terus melangkah dalam tulisan, sehingga jejakku yang hanya seredup kelipan kunang-kunang (kica-kica ) ini bisa abadi.
     Masih banyak bahan posting yang akan aku siapkan.  Aku menghitung, ada tujuh pelatihan daring yang kuikuti sejak bulan Maret dan semuanya menarik untuk diceritakan.  Aku memang tidak pandai menulis cerpen, puisi atau opini, karena daya imajinasiku lumayan parah.  Namun sebagai guru IPA aku juga punya senjata-senjataku sendiri dalam menulis.  Panjang umur literasi, panjang umur Ibu Ony!
      
     

  

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Biarkan Tulisan Itu Menemui Takdirnya

Lautan Sebagai Sumber Pangan (Potensi dan Pengelolaan Makanan Berbasis Ikan Laut di Kabupaten Subang)

Generasi Rebahan Tempat Kita Melanjutkan Asa