Menulis Agung
Terlahir
dan menyandang nama “Agung” itu rasanya memang agak gimana gitu. Kata “agung” itu menyiratkan kebesaran dalam
konteks yang super positif. Sama halnya
dengan nama “Raya”, representasi “agung “ identik dengan suatu kebaikan yang
dibagi dengan sebanyak mungkin orang.
Kelas Belajar Menulis XII pada Rabu, 10
Juni 2020 menghadirkan Bapak Agung Pardini, pendiri Sekolah Guru Indonesia
(SGI) yang websitenya bisa diakses di http://www.sekolahguruindonesia.net/.
Sekilas
tadinya saya mengira topiknya tidak akan jauh dari hari-hari sebelumnya,
seputaran motivasi menulis, menata kalimat, prestasi individu dalam menerbitkan
buku, atau profit materi/non materi yang didapatkan dari hasil menulis. Ternyata saya salah total.
Pertama kali saya sangat terkesan dengan cara Agung Pardini membalas
pesan-pesan dan pertanyaan yang ditujukan kepadanya. Lewat ketikan huruf di WhatsApp yang bebas typo
(benar, saya cek berulangkali) dan kalimat dengan struktur yang nyaris
sempurna. Spasi nyaman, kontur kalimat
begitu rapi. Sungguh luar biasa
mengingat ini adalah ketikan chat.
Dengan kecepatan ketikan chat dan hasil serapi ini, meski tidak melihat langsung, saya langsung tahu, Agung
Pardini sosok yang sangat well organized, sensitive dan sangat
peduli pada orang lain. Benar saja. Saat
membuka website SGI, saya makin terperangah. Semua yang saya saksikan, sama
seperti opening sentence beliau “ Izinkan pada malam hari ini saya
sedikit memberi perspektif berbeda dalam urusan penulisan dan penerbitan buku
di bidang pendidikan dan keguruan”. (bahkan kalimat ini saya copy paste
kan sempurna dari WA chat tanpa edit sedikitpun. Amazing!)
“Berdasarkan pengalaman saya bekerja di
lembaga kemanusiaan Dompet Dhuafa. Kita terbiasa untuk mengajak para guru-guru
yang mengabdi di daerah-daerah pelosok untuk menulis dan berkarya. Di tengah
keterbatasan kondisi geografis dan budaya, aktivitas menulis dan berkarya ini
memiliki tantangan sendiri buat para guru-guru di sana terdapat beberapa
kendala:
1.
Gaya bahasa, ada beberapa istilah Bahasa Indonesia yang dimaknai secara
berbeda di daerah.
2.
Penggunaan komputer, banyak yang belum mengenal MS Office
3.
Listrik, di beberapa wilayah hanya menyala di malam hari.
4.
Ejaan yang (belum) disempurnakan
Nah
bagaimana cara kita mengatasi kendala ini? Salah satunya adalah dengan model
pendampingan intensif. Secara sabar para konsultan dan guru-guru relawan akan
melakukan pendampingan dan bimbingan selama kurang lebih setahun. Tentu ini
bukan tugas yang mudah. Butuh kesabaran dari para relawan. Dompet Dhuafa
sendiri dibangun oleh para jurnalis senior Republika di era-era awal. Sehingga
setiap program yang kami kerjakan buat pemberdayaan guru di daerah harus
memiliki produk buku atau tulisan. Ada
beberapa ragam jenis kegiatan menulis dan berkarya yang biasa kita berikan
kepada guru-guru di pelosok. Outputnya tidak harus buku, ada yang berbentuk
PTK, jurnal, media pembelajaran, puisi, dan lain sebagainya”
Anda (pembaca) tahu tidak? Kalimat-kalimat dalam tanda petik di atas
adalah kalimat beliau yang langsung saya kutip.
Tanpa edit sedikitpun, baik pada alur berpikir apa lagi struktur
kalimat. Sampai satu karakterpun tidak
ada yang saya perbaiki. Saya dari tadi
memuji Agung Pardini, dan sudah kehabisan kata untuk mengagumi skill
beliau yang langka ini. Andai saja semua
penulis bisa menyampaikan gagasannya dengan kalimat sebening ini, berapa juta
orang akan tercerahkan. Sungguh
inspiratif. Sejauh itu kepekaan Agung
Pardini dalam menyajikan tulisan, sehingga beliau membuat kalimat yang begitu
mudah dipahami dan nyaman dilihat.
Seperti biasa, peserta Pelatihan juga
disuguhi cover-cover buku yang berhasil beliau tulis. Berikut
contoh-contohnya:
“Terkait
dengan percetakan, Alhamdulillah semua dibiayai oleh donasi zakat yang dikelola
oleh Dompet Dhuafa. Buku-buku ini tidak diperjual belikan. Namun akan dibagikan
secara gratis buat guru-guru di daerah lain yang membutuhkan. Ahamdulillah
buku-buku ini dapat memberi manfaat dan masukan bagi inovasi pembelajaran di
daerah lain.” demikian tegas beliau.
Namun
ada satu yang mencuri, bahkan merampok seluruh perhatian saya dalam sesi
pelatihan itu.
“Kami
punya genre buku-buku yang lain. Sifatnya adalah kisah-kisah inspiratif dari
para pejuang muda pendidikan yang mengabdi sebagai guru-guru di daerah pelosok.
Berikut contohnya :
Dua
buku bercerita banyak tentang pengalaman para guru-guru muda yang mengajar
hingga ke pelosok negeri.
Ada
yang di kepulauan
Ada
yang di hutan dan pegunungan
Dan
ada yang di pelosok kampung
Pernah
ada guru muda kami yang meninggal dalam tugas di penempatan. Dan saat sebelum
meninggal, beliau sempat menulis pada buku di atas (warna coklat). Akhirnya
nama beliau kami abadikan menjadi nama sebuah penghargaan bagi guru-guru
terbaik SGI.
Jamilah
Sampara Award” , sampai di sini nafas saya
tercekat. Saya menangis.
Melihat judul buku yang ditulisnya pada
saat-saat terakhir “Batu, Daun, Cinta, Teman Setia Belajarku” betapa gemilang
semangat yang membara dalam jiwanya untuk Pendidikan. Inilah inspirasi yang saya cari. Menulis dapat meninggalkan jejak abadi. Kematian yang menjemput Jamilah Sampara,
menjadi “agung” dengan kehadiran Agung Pardini.
Tuhan, saya mau menulis. Saya mau
sebelum nafas terakhir menjemput, kemuliaan seperti Jamilah Sampara inilah yang
akan saya sandang.
Terimakasih
pak Agung, saya beruntung bersentuhan dengan “keagungan” visi anda. Apa yang anda tuliskan bukan sekedar susunan
kalimat, melainkan semacam “neurotonic” yang membuat saya berpikir untuk kembali menjadi manusia.



Menyajikan yang berbeda saat diawal itu memberikan rasa beda
BalasHapusbetul pak. Variasi (berbeda) adalah kebutuhan dasar setiap manusia.
HapusKeren banget Bun..tulisannya...
BalasHapusterimakasih ibu, sudah mampir.
HapusBagus ibu..siip
BalasHapusthank you ibu.
HapusPerspektif resume yg berbeda. Mantap !!!
BalasHapusSilakan kunjungi juga blog saya ya di https://fahdyfuhed.blogspot.com/
Siap!
HapusMantap..
BalasHapusThank you bapak.
HapusJoss
BalasHapusSiap, bu Arum. Meluncur ke rumah ibu, 86!
HapusBagus...
BalasHapusTerimakasih ya pak, sudah berkenan mampir.
HapusHebat bu
BalasHapusMakasih bu. Semangatku untuk terus berkarya.
Hapus