Pasanganku, Pakaianku
Setiap dari kita,
memiliki haru biru rasa setiap mendengar kata “pernikahan”. Maknanya bisa bermacam-macam, membentuk
sketsa-sketsa yang sangat mewarnai kehidupan kita. Pernikahan begitu penting bagi setiap
individu, sehingga kelak akan terbawa dalam
perhitungan keabadian. Agama samawi
manapun, begitu memaknai pernikahan sebagai sesuatu yang “tinggi”, sakral dan
sedikitpun tidak boleh dibawa main-main.
Sebagai orang Jawa, pernikahan juga
mendapatkan porsi serius dalam berbagai wejangan yang diberikan orangtua bagi
anak-anaknya. Orang Jawa memberikan penghargaan
yang tinggi bagi setiap yang bersungguh-sungguh mempertahankan dan merawat
pernikahannya. Bahkan saat segalanya
seperti sedang mengenggam bara. Nikah
(Perkawinan) artinya “waNI KAlaH” (berani kalah) (Bahasa Jawa). Sesederhana itu para pinisepuh
memaknainya. Berhenti merasa paling
benar dan paling tahu atas pasangan kita, sejak hari pertama menikah.
Dr. Amien Rais, seorang tokoh masyarakat
terkenal yang kehidupannya bertabur pencapaian besar, berhasil mempertahankan
50 tahun pernikahannya dengan Ibu Kusnasriyati Sri Rahayu. Dari beliau berdua, hanya ada satu kalimat
yang terucap saat ditanya apa resepnya, “Stop membandingkan pasangan dengan
siapapun, sejak hari pertama pernikahan”.
Terdengar mudah, namun siapa sangka, justru disinilah nilai ibadah utama
yaitu kesabaran, mulai dihitung. Agama Islam sendiri memaknai pernikahan
sebagai separuh kesempurnaan agama.
Proporsi yang sungguh tidak main-main.
Apabila badai mulai menghempas dan
mahligai mulai bergetar hebat, rasanya memang tidak nyaman berada dalam satu
perahu. Namun salah satu dari kita tidak
mungkin terjun ke dalam samudera yang sedang murka. Dua insan diikat cinta, tak akan sanggup
melihat pasangannya celaka atau saling mencelakai. Keyakinan akan “kebaikan mutlak” pada
pasangan yang telah kita pilih adalah
sangat utama. “Kebaikan mutlak” itu merujuk
pada satu set karakteristik pasangan baik yang mudah maupun sulit berubah, yang
tampak positif atau negatif.
Kita telah memilih pasangan kita sebagai
pakaian yang akan kita pakai
(QS 2 : 187). Pakaian yang baik setidaknya memiliki lima
fungsi utama, yaitu :
a.
Sebagai tanda agar mudah dikenali.
Kita
tahu fungsi uniform bagi kalangan tertentu (misalnya guru, siswa atau TNI)
adalah supaya mudah diidentifikasi.
Kepada siapa kita berpasangan, maka seharusnya orang sudah bisa langsung
mengenali siapa dan bagaimana kita ini.
b.
Sebagai pelindung tubuh dari panas,
dingin, mikroorganisme dan bahaya lain.
Sepasang
lengan kukuh yang memeluk saat rapuh,
sebidang dada yang nyaman untuk bersandar, sepasang mata yang
menyiratkan kebanggaan terhadap setiap pencapaian, semua adalah pelindung jiwa
dan raga dari kerasnya hantaman ombak kehidupan. Pasangan seharusnya seperti
pakaian yang melindungi tubuh rapuh kita dari berbagai faktor eksternal.
c.
Sebagai perhiasan
Betapa
besar umat manusia mengakui pengaruh besar pakaian dalam meningkatkan keindahan
penampilan seseorang. Pakaian dengan
potongan, warna dan material kain yang indah dan mahal akan menaikkan kelas
penampilan seseorang. Pasangan kita
harusnya seperti itu.
d.
Sebagai penutup kekurangan yang kita
miliki
Tubuh
dengan bentuk tidak ideal, proporsi torso yang kurang sempurna, seketika akan
sirna dengan potongan dan permainan garis corak pada pakaian kita. Seseorang dengan tubuh besar, begitu anggun
dengan model vertical line atau corak bunga kecil. Pasangan kita seharusnya menutup kelemahan
kita.
e.
Sebagai ibadah
Pakaian
dalam konsep agama Islam, adalah ibadah yang bernilai dan akan diperhitungkan
kelak pada kehidupan setelah mati.
Pakaian ada dalam konsep keimanan, bentuknya, ukurannya, dan apa saja
yang harus ditutupi. Pasangan kita
haruslah seperti pakaian yang kita kenakan sebagai ibadah, setiap kita
memakainya, setiap detik adalah pahala.
Mempertahankan mahligai bukan perkara
yang mudah. Sungguh memerlukan kerja
keras setiap detiknya. Setiap pribadi
bertumbuh, demikian juga dengan pasangan kita.
Namun fungsi pakaian relative tetap.
Jika kita niatkan pasangan sebagai pakaian kita, maka pertumbuhan itu
tidak akan menjauhkan, justru akan semakin mendekatkan. Menyatukan, sampai
bahkan maut pun tak akan memisahkan. Kematian
hanyalah pintu gerbang perjalanan keabadian menjemput hari penghitungan (Hadits Imam Bukhari) karena bersama orang-orang
yang kita cintailah kita akan dibangkitkan kembali.
sae niki..
BalasHapusAlhamdulillah
HapusMantul bu...👍
BalasHapusmakasih, pak
Hapusbgs bgt
BalasHapussiap!
HapusKeren Bun..
BalasHapusterimakasih bu, sudah berkenan mampir.
HapusMasya Allah... 🥰
BalasHapusalhamdulillah...
HapusMasyaAllah
BalasHapus