Pudarnya Kehangatan Rasa Itu (Sikap Sosial yang Sudah Tidak Akan Kita Temukan Lagi Sekarang)

Rasa apa yang tiba-tiba menyusup kemudian merembes dalam jiwa anda saat mendengar kata “masa kecil” ?  Begitu banyak nuansa yang akan ditemukan.  Masa kecil memiliki arti yang berbeda-beda bagi setiap orang.  Satu hal yang pasti, waktu terasa cepat berlalu  bagaikan tebasan pedang.  Masa-masa itu tak akan pernah kembali, buat apa dikenang lagi?  Namun kehidupan ini ibarat menjalankan mobil atau motor, kita butuh masa lalu sebagai kaca spion yang sesekali harus kita tengok supaya perjalanan kita aman dan selamat.

     Dulu kita sering mendengar orangtua kita mengeluh tentang kelakuan anak-anaknya.  Katanya “dasar anak jaman sekarang, makin susah diatur, tidak menghargai…(isi sendiri), berbeda dengan waktu bapak sama ibu kecil dulu…(isi sendiri).”  Jika sekarang kita mulai sering mengucapkan kata-kata semacam ini kepada anak-anak  di rumah atau murid-murid  di sekolah, jangan-jangan kita memang benar-benar sudah tua.

      Mari kita telusuri sejenak sambil memejamkan mata.  Mungkin diantara kita banyak yang tidak ingat, kapan persisnya kebiasaan-kebiasaan yang sering kita temukan waktu kecil itu mulai hilang. 

 

 

 

 

 

Jumputan beras


      Saya ingat waktu masih Sekolah Dasar, bapak atau ibu selalu menyiapkan secangkir kecil beras (sekitar 5 atau 10 gram) kemudian diberi kawat pengait dan ditaruh di sebelah pintu depan.  Petugas yang bergiliran mengumpulkannya setiap malam.  Siapa lagi kalau bukan warga yang kebetulan piket ronda malam.  Bapak saya juga mendapat giliran sekali dalam sebulan mengambil jumputan beras ini. 

     Setiap saya ingat kenangan itu pada umur setua ini, saya termenung sambil menghela nafas berat.  Bagaimana mungkin kebiasaan yang sangat baik itu bisa hilang?  Terdapat fungsi pemerataan dan pengamanan sosial di dalamnya.  Beras yang terkumpul akan diberikan bagi warga kurang mampu di lingkungan itu.  Seandainya jumputan beras terus berjalan, mungkin kita tidak akan saksikan aparat desa marah-marah dan viral videonya karena kesalahan pendataan warga penerima BLT.  Hal yang lebih penting lagi adalah fungsi keamanan.  Warga saling menjaga karena apabila ada rumah yang kedapatan tidak memberikan jumputan beras, dalam waktu tidak terlalu lama akan terdeteksi apakah kondisi warga tersebut baik-baik saja.  Mungkin tak akan pernah ada warga yang meninggal mendadak di dalam rumahnya yang tiga hari kemudian baru ketahuan.  Miris.

   

 

 Kentongan dan Pos Siskamling


      Dahulu waktu kecil, mendengar suara orang menabuh kentongan bambu setiap lepas tengah malam terasa adem.  Rasanya aman, ada warga yang bergantian peduli menjaga lingkungan.  Pos Siskamling menjadi tempat ideal untuk berkumpul, bertegur sapa dan menjalin keakraban.  Tidak ketinggalan anak-anak pun ikut memanfaatkannya untuk bermain setiap sore.  Semua saling mengenal, saling menjaga.  Kalau sekarang masih ada (banyak) seperti dulu, mungkin tidak akan terjadi kriminalitas yang begitu masif seperti sekarang.  Masuk ke dalam rumah dengan sandal merk Swallow ditinggalkan di luar sebentar saja langsung hilang.  Sedih.

Mematikan mesin motor dan menuntunnya setiap memasuki gang sempit atau   melewati kumpulan orang.

      Tidak ingat persis kapan kebiasaan ini akhirnya punah.  Kita sendiri malah seperti terbawa arus.  Jaman sekarang rasanya sudah sulit menemukan lingkungan yang warganya masih melaksanakan etika ini.  Kebanyakan kita pastilah sudah paham bagaimana keadaannya.  Seorang motivator bisnis terkemuka, Coach Axdwin yang aktif di Twitter dengan 22 ribu followernya dan tinggal di Bekasi sampai pernah menuliskan, jika beliau menjadi Ketua RW, kebijakan 100 hari pertamanya adalah menertibkan para pengguna knalpot modifikasi agar tidak mengonggong setiap masuk gang.  Ada-ada saja.

 

Menyediakan kendi atau kompon (jerigen) berisi air minum lengkap dengan gelasnya di depan rumah masing-masing


      Begitu tingginya sikap saling menghargai pada kultur masyarakat kala itu.  Mau pergi sejauh apapun, mau main kemana saja sewaktu kecil saya tidak khawatir kehausan.  Selalu menemukan air bersih gratis yang siap minum dan diisi setiap pagi atau sore oleh sang pemilik rumah.  Air banyak,  tak perlu beli.  Entah sejak kapan kebiasaan ini menghilang.  Di negeri yang katanya gemah ripah loh jinawi ini, air minum saja harus beli dan harganya lebih mahal dari Pertamax.  Sedih lagi.

       Kita terlempar memakai mesin waktu.  Kita sekarang hidup dalam masyarakat yang serba individualistis.  Tak ada lagi kontrol sosial, kebersamaan dan saling menjaga.  Ketahanan keluarga rapuh, ketahanan sosial berantakan.  Negara hanya seolah ada sebatas konstitusi, tapi bangsa ini seolah menuju “keruntuhan eksistensi”.  Tampaknya  polemik heboh yang pernah dikemukakan oleh seorang politisi yang mencalonkan diri sebagai calon presiden dua tahun yang lalu akan mendekati kebenaran.  Beliau banyak mengutip novel sci-fi techno thriller tulisan P.W Singer, berjudul Ghost Fleet.  Indonesia sebagai konstitusi mungkin akan tetap ada, namun Indonesia sebagai bangsa sudah akan menjelang punah setidaknya di 2030. 

Semoga Tuhan Yang Maha Kuasa senantiasa menjaga dan menyelamatkan kita semua.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Biarkan Tulisan Itu Menemui Takdirnya

Lautan Sebagai Sumber Pangan (Potensi dan Pengelolaan Makanan Berbasis Ikan Laut di Kabupaten Subang)

Generasi Rebahan Tempat Kita Melanjutkan Asa