Kalung Anti Corona
Saya kira sudah selesai
berita-berita sensasional yang dibuat pemerintah sepanjang wabah covid 19
ini. Rupanya saya salah. Hari ini saya membuka trending topic dan
menemukan #kalungantibego bertengger di posisi teratas salama berjam-jam. Penasaran, saya coba scroll. Ternyata itu adalah rencana Kementerian
Pertanian untuk memproduksi semacam kalung yang diisi produk herbal yang diduga
memiliki khasiat antibacterial dan imunitas, yaitu kayu putih.
Semoga dunia tidak mentertawakan kita
karena ini. Membacanya dan bolak-balik
mencoba mencari benang merah gagasan ini, membuat saya memiliki kesimpulan,
pemerintah sedang “insulting public intelegency”. Virus covid 19 ini bukan main-main dampaknya
pada penurunan kondisi kesehatan seseorang.
Belum ada vaksinnya dan begitu mudah menular. Hingga saat ini saja
seingat saya lebih dari 65 dokter dan 35 perawat wafat dalam penanganan pandemic
ini.
Bahkan
kabarnya akan diproduksi secara massal.
Tak pelak lagi, wacana absurd ini menuai pro dan
kontra dari berbagai kalangan.
Komentar-komentar bernada satir sampai jenaka berhamburan di area
percakapan public. Satu hal yang membuat
saya cukup terhibur adalah kreativitas netizen yang seolah tanpa batas dalam
berkomentar dan membuat meme.
Di tengah beban dan
kesulitan masyarakat yang kian menghimpit, layakkah ini menjadi headline media
nasional? Pemerintah dari awal memang
sudah terlihat tidak kompak, gagap dan salah urus. Pandemi covid 19 seharusnya ditangani dahulu
barulah kemudian percepatan ekonomi menjadi langkah pencapaian
selanjutnya. Kita tidak mungkin
mengembalikan nyawa orang yang sudah meninggal, namun kita bisa mengembalikan
pertumbuhan ekonomi karena kita tahu ilmunya.
Pertumbuhan ekonomi tak
akan terjadi di atas angka kasus positif 1300 perhari dan angka kematian resmi menjelang
tiga ribu. Sosialisasi pencegahan
penularan covid 19, yaitu social distancing, memakai masker, mencuci tangan
memakai sabun, menghindari kerumunan terkalahkan oleh gegap gempita protes laju
perekonomian yang katanya apapun yang terjadi harus tetap berputar. Masyarakat sudah tidak menggubris maut akibat
covid 19 yang bisa saja menyergap setiap saat pada kalangan umur
berapapun.
Sejak awal sudah curiga, menduga dan
akhirnya meskipun tidak diakui secara remi, tampaknya konsep herd immunity
memang menjadi opsi pemerintah. Tanpa
vaksin, konsep ini sangat berbahaya karena untuk mencapai kekebalan kelompok,
kita harus kehilangan dua pertiga jumlah populasi dari individu-individu dengan
imunitas lemah. Termasuk kelompok ini
adalah anak-anak dan para lanjut usia.
Kita benar-benar harus menjaga
keselamatan kita sendiri dan kompak dengan anggota keluarga. Setidaknya meskipun memakai masker dikatakan
lebay dan menjaga jarak dicap paranoid, kita tidak boleh bergeming. Kurva kasus positif belum turun dan kita
belum boleh bepergian, berkerumun atau berolahraga massal. Tetap belum boleh. Aktivitas keluar rumah tetap harus dilakukan
dengan protocol yang ketat.
Pada akhirnya yang terparanoid itulah
nanti yang akan selamat. Sebagai jebolan
sains, saya paham betul sifat dan virulensi covid 19. Bahkan pada beberapa aktivitas di sekolah
saya sudah mulai tidak menjaga jarak aman dan masker. Terdapat kecenderungan pengabaian dan
resistensi. Semua itu ya salah satunya
akibat pemberitaan pemerintah yang aneh-aneh seperti kalung corona ini. Sering dalam hati menangis, apalagi kalau
ingat paramedic yang sudah berguguran. Sungguh
sulit mencetak seorang dokter, dan kita kehilangan begitu banyak yang
terbaik. Tak cukup dengan doa dan
harapan, kita semestinya juga sekuat mungkin mencegah diri kita agar tidak
terkena. Jaga diri anda baik-baik, saudara-saudara.
Komentar
Posting Komentar