Tips Bertahan dalam Pernikahan

Pernikahan dalam imajinasi saya adalah sebuah mahligai yang sedang berlayar di samudera luas.   Di dalamnya ada seorang pria sebagai nahkoda yang menentukan arah perjalanan, dan seorang wanita sebagai asisten utama yang membantu sepenuhnya tugas nahkoda selama pelayaran.  Keduanya harus bekerjasama memastikan mahligai berlayar dengan sempurna dalam berbagai kondisi perairan.

      Terkadang, laut begitu cerah, angin bersahabat dan burung-burung laut menghiasi perjalanan yang damai.  Dolphins yang berlompatan tersenyum mengiringi mahligai membelah samudera, sungguh sebuah perjalanan ideal.  Namun cuaca akan cepat berubah.  Sejenak kemudian, langit menghitam, angin mengamuk dan samudera bergulung-gulung dengan ganas.  Kemurkaannya tak akan redam dengan apapun selain masa.  Nahkoda dan asistennya harus berusaha keras supaya mahligai tidak tenggelam melewati badai. 

      Mempertahankan mahligai bukan pekerjaan yang mudah.  Tips yang terbaik adalah yang berasal dari veteran kesalahan.  Seseorang yang pernah salah dan gagal, lalu mengambil intisari peristiwa dan membaginya kepada pribadi-pribadi lain adalah sumber terbaik.  Atau seseorang yang pernah melewati badai serupa, bertahan dan berhasil, juga merupakan sumber berharga.  Berikut beberapa tips yang saya kumpulkan dari berbagai refleksi pengalaman hidup beberapa orang, termasuk pengalaman kegagalan saya sendiri, kemudian diramu dan disajikan khusus buat anda, para pembaca setia saya dengan sepenuh cinta.

ü Saling memaafkan.  Suami dan istri saling memaafkan dengan tulus jika keduanya habis bertengkar.  Saling memaafkan bisa menambah kemesraan asalkan tanpa mengungkit kesalahan masa lalu.  Ibu Widyawati, seorang aktris terkenal di era 90 an, mengungkapkan rahasia pernikahannya yang awet selama 26 tahun dengan aktor Sophan Sophiaan yang dipisahkan oleh maut tahun 2008 lalu.  Saat ditanya apa resepnya selalu tampak rukun, beliau menjawab “kami bukannya tidak pernah bertengkar dan saling mendiamkan.  Sering.  Tapi tidak pernah lama-lama”.

ü Jika menemukan masalah yang rumit sebaiknya mintalah saran professional untuk menyelesaikan.  Jangan menunda-nunda masalah karena akan memperuncing hubungan.  Professional yang dimaksud adalah konsultan perkawinan atau alim ulama, bukan pihak ketiga (wanita atau pria lain) atau keluarga dari kedua belah pihak.  Subjektivitasnya akan sangat besar dan tidak baik.  Dr Khalid Basalamah, seorang alim ulama yang sering mengangkat topik pernikahan dan keluarga sangat menekankan pasangan yang sedang menghadapi masalah kompleks untuk meminta pendapat dan nasehat alim ulama. Pada nama Tuhan kita merentangkan layar bahtera, dan kepada Tuhanlah kita meminta navigasi.

ü Mempertahankan identitas diri tapi tetap terbuka untuk kompromi.  Sah-sah saja melakukan kompromi jika sedang berbeda pendapat, tapi sebaiknya jangan abaikan hak masing-masing.  Terkadang ada pihak yang mengalah dengan terpaksa atau ada pihak yang memaksa untuk menang.  Negosiasi, negosiasi dan negosiasi, sehingga akan tampak jelas bahwa kedua belah pihak sama-sama saling diuntungkan.

ü Permasalahan rumah tangga adalah proses dari aku dan kamu menjadi kita.  Artinya sejak menikah anda dan pasangan tidak boleh mengedepankan ego masing-masing.  Sebaiknya semua permasalahan diselesaikan bersama-sama. 

ü Mulailah pernikahan dengan harapan dan fantasi yang menyenangkan, namun tetap realistis menghadapi hidup.

ü Kenali karakter diri sendiri dan pasangan.  Tujuannya untuk memahami tentang apa yang harus dilakukan dan dihindari saat memutuskan hidup bersama. 

ü Mau belajar mengenal pasangan karena seseorang tidak mungkin menjadi pribadi yang sama seumur hidup.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Biarkan Tulisan Itu Menemui Takdirnya

Lautan Sebagai Sumber Pangan (Potensi dan Pengelolaan Makanan Berbasis Ikan Laut di Kabupaten Subang)

Generasi Rebahan Tempat Kita Melanjutkan Asa